Media Massa dan Permasalahannya
Dewasa ini begitu banyaknya perusahaan yang menawarkan jasa ataupun produk kepada masyarakat. Penawaran ini mereka lakukan dengan berbagai macam cara. Pembuatan iklan melalui media cetak maupun media elektronik, penawaran produk atau jasa melalui sales promotion, penawaran produk atau jasa melalui bentuk komunikasi pemasaran face to face, atau penawaran produk atau jasa yang dilakukan oleh public relations merupakan cara-cara yang biasa dilakukan oleh para produsen tersebut.
Banyaknya perusahaan atau produsen yang ingin mengenalkan jasa atau produknya kepada masyarakat luas membuat mereka saling berlomba-lomba untuk menarik perhatian publiknya agar menggunakan jasa atau produk yang mereka tawarkan. Karena saat ini satu jenis produk atau jasa dapat beraneka ragam macamnya. Kecenderungan untuk menjadi nomer satu agar citra produknya dapat selalu diingat oleh masyarakat luas membuat para produsen menggunakan media untuk mempromosikan jasa atau produknya yang diinginkan oleh publik. Karena para produsen berprinsip semakin dikenal citra produk atau jasa yang mereka buat, semakin banyak masyarakat yang menggunakan produk atau jasanya, maka semakin banyak pula mereka akan meraih keuntungan yang merupakan prestise tersendiri.
Penyampaian informasi tentang produk atau jasa yang dilakukan oleh para informan, dalam hal ini adalah produsen yang berlaku sebagai komunikator menyampaikan berbagai macam informasi sesuai dengan permintaan si penerima pesan, dalam hal ini adalah publik atau konsumen yang bertindak sebagai komunikan, dengan berbagai macam gaya bahasa. Berlomba-lomba dalam menawarkan produk atau jasa seperti yang telah dimaksud terkadang melewati batas etika yang ada, baik etika jurnalistik, etika advertising, maupun etika komunikasi dalam media. Pelanggaran-pelanggaran yang biasanya mereka lupakan justru melewati batas etika yang ada antara lain; kekerasan, manipulasi media, dan pornografi.
Media memiliki idealisme, yaitu memberikan informasi yang benar. Dengan idealisme seperti itu media ingin berperan sebagai sarana yang mampu mendidik agar pemirsa, pembaca, dan pendengar akan semakin memiliki sikap kritis, kemandirian, dan kedalaman berpikir. Akan tetapi realitas sering memiliki arah yang berlawanan. Dalam realitas diwarnai dengan pemaknaan ekonomi yang dapat menghambat idealisme media tersebut. Karena pemberian informasi yang dikehendaki oleh publik akan lebih menguntungkan media tersebut atau media saat ini lebih mengikuti keinginan pasar. Realitas pasar seperti ini menggambarkan bahwa media berada dibawah tekanan ekonomi persaingan yang keras dan kuat.
Tekanan media pada ekonomi memicu media untuk berlomba-lomba menampilkan apa yang disenangi oleh pemirsa, pendengar, atau pembacanya. Kriteria yang disukai ini menjebak media mudah tergoda pada pornografi. Terkait dengan pornografi ini, bukan hanya masalah etika pariwara saja, namun masalah politik dan pendidikan juga ikut dipertaruhkan. Argumen setuju atau tidak setuju tentang pemahaman akan masalah kebebasan berekspresi, hak akan informasi, dan hak untuk memilih pilihan pribadi mewarnai masalah pornografi ini. Jika pemerintah terlalu mengatur dan campur tangan media, maka akan dianggap membatasi ruang lingkup kebebasan media. Tetapi jika tidak dibatasi nilai moral dalam media perlu dipertanyakan; apakah mereka mampu melindungi anak-anak dan para remaja, apakah media-media tersebut merendahkan martabat wanita, dsb.
Dewasa ini begitu banyaknya perusahaan yang menawarkan jasa ataupun produk kepada masyarakat. Penawaran ini mereka lakukan dengan berbagai macam cara. Pembuatan iklan melalui media cetak maupun media elektronik, penawaran produk atau jasa melalui sales promotion, penawaran produk atau jasa melalui bentuk komunikasi pemasaran face to face, atau penawaran produk atau jasa yang dilakukan oleh public relations merupakan cara-cara yang biasa dilakukan oleh para produsen tersebut.
Banyaknya perusahaan atau produsen yang ingin mengenalkan jasa atau produknya kepada masyarakat luas membuat mereka saling berlomba-lomba untuk menarik perhatian publiknya agar menggunakan jasa atau produk yang mereka tawarkan. Karena saat ini satu jenis produk atau jasa dapat beraneka ragam macamnya. Kecenderungan untuk menjadi nomer satu agar citra produknya dapat selalu diingat oleh masyarakat luas membuat para produsen menggunakan media untuk mempromosikan jasa atau produknya yang diinginkan oleh publik. Karena para produsen berprinsip semakin dikenal citra produk atau jasa yang mereka buat, semakin banyak masyarakat yang menggunakan produk atau jasanya, maka semakin banyak pula mereka akan meraih keuntungan yang merupakan prestise tersendiri.
Penyampaian informasi tentang produk atau jasa yang dilakukan oleh para informan, dalam hal ini adalah produsen yang berlaku sebagai komunikator menyampaikan berbagai macam informasi sesuai dengan permintaan si penerima pesan, dalam hal ini adalah publik atau konsumen yang bertindak sebagai komunikan, dengan berbagai macam gaya bahasa. Berlomba-lomba dalam menawarkan produk atau jasa seperti yang telah dimaksud terkadang melewati batas etika yang ada, baik etika jurnalistik, etika advertising, maupun etika komunikasi dalam media. Pelanggaran-pelanggaran yang biasanya mereka lupakan justru melewati batas etika yang ada antara lain; kekerasan, manipulasi media, dan pornografi.
Media memiliki idealisme, yaitu memberikan informasi yang benar. Dengan idealisme seperti itu media ingin berperan sebagai sarana yang mampu mendidik agar pemirsa, pembaca, dan pendengar akan semakin memiliki sikap kritis, kemandirian, dan kedalaman berpikir. Akan tetapi realitas sering memiliki arah yang berlawanan. Dalam realitas diwarnai dengan pemaknaan ekonomi yang dapat menghambat idealisme media tersebut. Karena pemberian informasi yang dikehendaki oleh publik akan lebih menguntungkan media tersebut atau media saat ini lebih mengikuti keinginan pasar. Realitas pasar seperti ini menggambarkan bahwa media berada dibawah tekanan ekonomi persaingan yang keras dan kuat.
Tekanan media pada ekonomi memicu media untuk berlomba-lomba menampilkan apa yang disenangi oleh pemirsa, pendengar, atau pembacanya. Kriteria yang disukai ini menjebak media mudah tergoda pada pornografi. Terkait dengan pornografi ini, bukan hanya masalah etika pariwara saja, namun masalah politik dan pendidikan juga ikut dipertaruhkan. Argumen setuju atau tidak setuju tentang pemahaman akan masalah kebebasan berekspresi, hak akan informasi, dan hak untuk memilih pilihan pribadi mewarnai masalah pornografi ini. Jika pemerintah terlalu mengatur dan campur tangan media, maka akan dianggap membatasi ruang lingkup kebebasan media. Tetapi jika tidak dibatasi nilai moral dalam media perlu dipertanyakan; apakah mereka mampu melindungi anak-anak dan para remaja, apakah media-media tersebut merendahkan martabat wanita, dsb.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar